HEADER Iklan tEST

2 Tersangka Bom Molotov di Gereja Samarinda Ternyata Masih Anak-anak

Jakarta - Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar menyebut, berkas perkara  GA (16) dan  RB(17) yang madih di bawah umur, segera limpahkan.

“Jika proses peradilan anak tidak diberlakukan Undang-Undang Terorisme namun mengacu pada peradilan anak. Jadi proses peradilan anak tentu berbeda, kita mengacu pada Peradilan Anak dimana masa tangkapnya 1 X 24 jam dan penahanannya 7 hari. 

Sedangkan UU Terorisme hukum acaranya kalau menahan itu harus 20 hari masa penyidikan,”ungkap Irjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Rabu (30-11-2016).

Kedua anak ini terlibat jaringan Terorisme di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) dan tergabung dalam Jamaah Anshoru Daulah (JAD).

“Mereka merupakan anak kandung JS pimpinan JAD di Kalimantan Timur sekaligus pendiri JAD Indonesia. GA dan RB  dimasukkan ke  Pndok Pesantren di Bogor milik Aman Abdulrachman, terpidana teroris yang ada di Nusakambangan setelah itu diajak gabung JAD oleh JS,”ujar Irjen Pol Boy Rafli Amar.

Irjen Pol Boy Rafli Amar menerangkan, GA dan RB peranannya melakukan persiapan dan percobaan bahan peledak. Pelemparan bom molotov oleh J ke Gereja Oikumene, Samarinda pada Minggu (13-11-2016) lalu yang membantu adalah mereka.

Polri, kata Irjen Boy Rafli Amar mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada mengingat aktivitas mereka berjalan terus dan terorganisasi sel-sel bawah tanah dengan berbaur dengan masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar