HEADER Iklan tEST

AS Pasca Pilpres

As- Setelah berbulan-bulan persaingan ketat dan penuh permusuhan antara Hillary Clinton dan Donald Trump, warga Amerika Selasa (8/11) akhirnya mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih kandidat mereka guna menentukan siapa yang bakal menang di pilpres ke 58 dan menjadi presiden ke 45 negari Paman Sam ini.

Pilpres Amerika tahun ini tercatat sebagai pemilu paling mahal, keras, kotor dan tidak dapat diprediksi selama satu abad terakhir. Persaingan di pilpres kali ini meski dibarengi dengan pemberian minimal 270 electoral vote kepada salah satu kandidat, namun di jam-jam pertama hari Rabu akan berakhir dengan penghitungan suara.

Meski demikian sepertinya dampak dari perang perebutan kekuasaan di Amerika ini tidak akan berakhir meski Clinton atau Trump berhasil melenggang ke Gedung Putih. Pemilu presiden Amerika tahun ini banyak menguak hal-hal rahasia negara ini bagi opini publik khususnya para penggemar asing. Pilpres ini menunjukkan bahwa betapa rakyat Amerika tidak puas terhadap kedua kandidat baik dari kubu Demokrat maupun Repulbik atas kondisi yang ada.

Sampai saat ini masyarakat Amerika belum mampu lepas dari dampak krisis ekonomi tahun 2007-2008. Kondisi lapangan pekerjaan di negara ini sangat mengkhawatirkan dan sepertinya impian Amerika yang selama beberapa dekade menjadi harapan telah musnah. Kemiskinan, korupsi, kerusakan, kriminalitas dan imigran gelap termasuk isu yang menjadi perhatian para kandidat serta opini publik.

Ketidakpuasan yang luas ini mendorong terbentuknya kubu-kubu nyata di antara kekuatan yang ada dari satu sisi dan di sisi lain, menciptakan kelompok yang saling menyerang di pilpres tahun ini di Amerika. Untuk menang di pemilu, Trump menyuarakan perubahan di Amerika sehingga mempertajam gesekan di antara kekuatan di negara ini. Kini  dan di akhir kampanye pemilu, muncul pertanyaan, apakah gelombang ini akan redam setelah pengumuman hasil pemilu?

Jawaban pertanyaan ini cukup sulit di tengah iklim permusuhan dua kekuatan politik besar di Amerika Serikat. Jika Trump menang di pemilu hari Selasa, maka ia akan berdiri sebagai pemimpin gerakan anti formasi yang ada dan gerakan ini akan mengerahkan energi dua kali lipat dalam aksinya.

Atau barangkali Trump setelah berkuasa sama seperti presiden Amerika sebelumnya yang melupakan janjinya selama kampanye termasuk memerangi kelompok korup. Atau juga barangkali kelompok ini dengan metode damai atau keras, membungkam berbagai suara di pentas politik Amerika.

Namun demikian sepertinya tuntutan yang ada di pemilu kali ini termasuk pembersihan Washington dari korupsi dan skandal lainnya serta pengokohan efektivitas sistem politik di Amerika tidak akan dilupakan meski dengan penghapusan baik secara sukarela atau paksa oleh Trump. Trump dan pendukungnya baik disadari atau tidak telah menyuarakan tuntutannya.

Posting Komentar

0 Komentar