HEADER Iklan tEST

AS Perpanjang Sanksi Iran

Para politisi dan media dunia akhir-akhir ini gencar membahas tentang arah kebijakan Amerika Serikat di era pemerintahan Donald Trump. 

Sebagian politisi juga berbicara tentang prospek kebijakan luar negeri AS di era baru dan tindakan yang mungkin diambil oleh Trump terhadap Republik Islam Iran.

Ketika dunia sedang fokus ke arah Trump, DPR AS pada Selasa (15/11/2016) memperpanjang Undang-Undang Sanksi Iran (Iran Sanctions Act) untuk 10 tahun ke depan. UU tersebut diterapkan untuk menekan industri minyak Iran dan dampak penerapannya juga dirasakan oleh mitra-mitra dagang Amerika.

Draft sanksi industri minyak Iran diperkenalkan oleh Senator Republik, Alfonse D'Amato pada tahun 1996. Draft ini disahkan oleh Kongres AS dan menghukum setiap perusahaan atau pemerintah, yang melakukan investasi lebih dari 40 juta dolar di industri minyak dan gas Iran.

Sebelum dan setelah pelaksanaan UU itu secara sepihak, AS dalam sebuah gerakan yang tidak biasa mendorong negara-negara lain untuk mengambil tindakan serupa terhadap Iran. AS berkali-kali mengontak sejumlah pemerintah termasuk anggota Uni Eropa untuk mendesak mereka menerapkan sanksi ekonomi dan perdagangan terhadap Iran.

AS berkali-kali menggunakan tuas ekonomi tidak hanya untuk menekan Iran, tapi juga negara-negara lain seperti Kuba dan Rusia. Mereka memanfaatkan tuas ekonomi sebagai instrumen untuk mengejar kepentingan jahatnya. 

Dalam hal ini, keuntungan dan kerugian sanksi tentu saja tidak dirasakan oleh satu pihak. Dalam kasus sanksi minyak, tidak hanya perusahaan-perusahaan Amerika, tapi juga banyak sekutu Washington di Eropa dan Asia menelan kerugian besar.

Hal ini dapat dilihat dari sikap antusias yang ditunjukkan oleh negara-negara sekutu AS untuk kembali ke pasar Iran dan memulai babak baru dari kerjasama perdagangan dengan Tehran.

Para menteri luar negeri Uni Eropa dalam sebuah pernyataan pada Selasa kemarin, menyerukan perluasan kerjasama dengan Iran dan menegaskan komitmen mereka terhadap perjanjian nuklir. Eropa memberikan sebuah pesan kepada AS bahwa mereka akan bersikap mandiri dan Washington tidak dapat merampas kepentingan Eropa untuk keuntungannya.

Ada banyak alasan mengapa Eropa dan negara lain menentang kebijakan sepihak AS. Mereka percaya bahwa undang-undang dalam negeri AS tidak dapat dipaksakan kepada negara-negara lain. Oleh karena itu, negara-negara dunia seperti Perancis dan Kanada, mengambil tindakan tertentu untuk melindungi perusahaan-perusahaan mereka dari imbas sanksi AS.

Pada dasarnnya, sanksi terhadap industri minyak Iran tidak realistis dan tidak efektif. Ini hanya sebuah tindakan untuk mengintensifkan tekanan psikologis dan propaganda terhadap Iran. Kebijakan ini tampaknya sekarang memiliki banyak pendukung baru setelah kemenangan Trump dalam pemilu.

Jelas bahwa Iran memiliki strategi dan kebijakan ekonomi sendiri serta mengetahui cara-cara untuk melawan aksi sepihak AS. Kebijakan anti-Iran akan selalu gagal dan tidak akan mengantarkan AS pada tujuannya.

Posting Komentar

0 Komentar