HEADER Iklan tEST

Guru Ngaji di Gresik Lampiaskan Nafsu ke 8 Muridnya

Gresik - Kasus pencabulan yang dilakukan guru ngaji terhadap anak-anak di bawah umur kembali terjadi. Kali ini, kasus tersebut terulang lagi di Gresik tepatnya di Desa Sembung, Kecamatan Wringinanom. 

Ironisnya, perbuatan tidak senonoh itu dilakukan oleh guru ngaji, Syamsul Huda (43), warga asal Nganjuk yang telah melakukan pencabulan terhadap delapan muridnya.

Tersangka Syamsul Huda akhirnya ditahan setelah menjalani pemeriksaan intensif di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Gresik.

Terungkapnya kasus itu tidak disengaja. Pasalnya, menurut keterangan Setiono (48) warga Desa Sembung, pada saat itu, korban bercerita ke sesama temannya. Namun, pembicaraan itu didengar tetangga korban. Karena ingin mengetahui kebenaran cerita itu, si tetangga itu menanyakan orang tua korban.

"Karena ingin tahu lebih banyak, orang tua korban pada saat bertemu menginterogasi anaknya untuk mengkaitkan permasalahan tersebut," ujar Setiono, Rabu (9/11/2016).
Setelah cukup mendapat bukti, orang tua korban melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Wringinanom. Pada waktu dilakukan pemeriksaan, beberapa orang tua korban yang anaknya dicabuli melaporkan kasus yang sama. Karena sudah cukup bukti, polisi menangkap pelaku dan kasus ini diserahkan ke unit PPA Polres Gresik.

Kaur Bin Ops Satreskrim Polres Gresik, Iptu Boediono membenarkan telah mengamankan pelaku kasus pencabulan anak-anak di bawah umur.

"Pelaku sudah ditahan setelah menjalani pemeriksaan," tuturnya.

Kasus pencabulan itu, berlangsung sekitar setahun yang lalu dan dilakukan di salah satu sekolah Madrasah Ibtidaiyah serta di tempat mengaji milik pelaku pada sore hari. Diduga di dua tempat itu, pelaku melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap korban.

"Dari delapan korban yang kami periksa laporannya bervariasi. Ada yang dipegang-pegang buah dadanya, kemaluannya, serta ada korban yang diajak hubungan layaknya suami istri," papar Iptu Boediono.

Sedangkan modus yang dilakukan pelaku, pada waktu jam istirahat sekolah. Korban dipanggil pelaku selanjutnya dipanggil ke dalam dengan alasan bantu bersih-bersih. Selain itu, pelaku juga meminta kepada korban saat mengaji untuk berangkat lebih awal. Sehingga, pelaku lebih leluasa melakukan perbuatan tidak senonoh.

"Kami menjerat pelaku dengan Pasal 81 dan 82 UU Perlindungan anak. Namun, kami masih terus melakukan pemeriksaan dan pengembangan terkait dengan kasus ini," tandasnya.

Posting Komentar

0 Komentar