HEADER Iklan tEST

Janji-janji Trump dan Kegirangan Israel

Rezim Zionis Israel bermaksud membangun lebih dari 30 ribu unit rumah baru di Baitul Maqdis selepas acara pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, Januari 2017 mendatang.

Menurut laporan media-media Israel, proyek tersebut sedianya akan dimulai di masa pemerintahan Donald Trump, karena milyarder asal New York itu tidak menganggap pembangunan distrik-distrik pemukim Zionis di wilayah pendudukan Palestina sebagai langkah ilegal.

Dalam kampanyenya, Trump mengatakan, jika terpilih menjadi Presiden Amerika, dirinya akan mengakui secara resmi Baitul Maqdis sebagai ibukota Israel.

Ketika bertemu dengan Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, Trump juga berjanji akan memindahkan Kedutaan Besar Amerika dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis jika ia terpilih.

Sikap petinggi Amerika khususnya Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir yang mendukung ekspansionisme Israel dapat diartikan sebagai lampu hijau bagi Tel Aviv untuk melanjutkan penjajahannya. 

Dalam kondisi seperti ini, Komite Kabinet Israel untuk urusan pengesahan, baru-baru ini mengesahkan sebuah draf yang memungkinkan rezim Israel menyita lebih banyak tanah warga Palestina untuk dijadikan permukiman.

Israel awal tahun 2014 juga mengesahkan sebuah program untuk menduduki secara bertahap wilayah Timur Baitul Maqdis. Dalam surat pengesahan itu disebutkan tentang perubahan demografi wilayah Timur Baitul Maqdis dalam jangka waktu enam tahun dan bergabungnya wilayah itu secara bertahap ke wilayah pendudukan, juga peningkatan kehadiran dan pengawasan keamanan Israel di wilayah tersebut.

Keputusan parlemen dan kabinet Israel sebagai kelanjutan program kerja makro ditetapkan beberapa waktu lalu untuk Yahudisasi total Baitul Maqdis hingga tahun 2020. Berdasarkan keputusan itu, Israel menganggarkan lebih dari 15 milyar dolar untuk merealisasikan program Yahudisasi total Al Quds.

Pergerakan aktif Israel di Baitul Maqdis relatif lebih ekspansionis ketimbang sebelumnya dan menunjukkan bahwa kabinet rezim ini menggunakan seoptimal mungkin kapasitas yang dimiliki untuk menduduki sepenuhnya Baitul Maqdis. Hal ini tampak jelas dalam konspirasi-konspirasi Israel terkait Masjid Al Aqsa.

Penegasan petinggi Israel atas klaimnya soal Baitul Maqdis yang merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayahnya, adalah awal dari langkah-langkah politik konspiratif Israel di wilayah itu.

Pendudukan total Baitul Maqdis merupakan salah satu target Israel dan inilah cita-cita yang diupayakan Israel sejak awal pendudukannya atas tanah Palestina. Oleh karena itu pada tahun 1948 Israel menduduki wilayah Barat Baitul Maqdis dan dalam kelanjutan kebijakan-kebijakan ekspanionisnya di wilayah Palestina, Israel kembali menduduki wilayah Timur Baitul Maqdis pada tahun 1967.

Pada tahun 1980, parlemen Israel mengesahkan sebuah keputusan untuk menggabungkan Baitul Maqdis dengan wilayah pendudukan Palestina sebagai ibukota Israel dan meminta seluruh negara dunia untuk memindahkan Kedubes mereka dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis. Namun hal ini memicu reaksi keras dari masyarakat internasional.

Melihat realitas itu semua, Donald Trump tetap menegaskan dukungannya atas perluasan pembangunan distrik Zionis dan politik ekspansionisme Israel di Baitul Maqdis yang membuat Israel kegirangan. Usulan proyek terbesar perluasan distrik-distrik Zionis saat ini dapat dianggap sebagai buah dari khayalan Trump dan Netanyahu terkait Al Quds.

Posting Komentar

0 Komentar