HEADER Iklan tEST

Kebijakan Arogan Eropa dan AS

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar), mengatakan Iran selalu menyeru negara-negara independen untuk memainkan peran aktif dalam melawan tekanan terhadap bangsa-bangsa dan meminta mereka untuk tidak menjadi penonton.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu ketika menerima kunjungan Presiden Slovenia, Borut Pahor di Tehran, Selasa (22/11/2016) sore.

Rahbar menilai konflik bersenjata di negara-negara wilayah Asia Barat dan kemunculan kelompok-kelompok teroris seperti Daesh, sebagai dampak dari intervensi dan pemaksaan kehendak oleh kekuatan tertentu. Menurutnya, semua negara berkewajiban untuk memadamkan api pertempuran itu.

Ayatullah Khamenei menganggap koalisi anti-Daesh pimpinan Amerika Serikat sebagai sebuah aliansi yang gagal, dan menandaskan bahwa Washington tidak punya program untuk mencerabut akar Daesh dan ingin memperlakukan Daesh dengan cara tertentu sehingga masalah ini tidak terselesaikan di Irak dan Suriah.

Pendekatan dan kebijakan AS terhadap berbagai wilayah termasuk Eropa sampai Asia Barat, Asia Tengah, dan daerah-daerah lain tidak berujung pada terciptanya keamanan dan stabilitas bagi warga setempat. Perbedaan besar ucapan dengan perilaku para politisi Amerika membuka peluang bagi munculnya masalah dan krisis di berbagai belahan dunia.

Cara Washington memandang Barat telah menyebabkan negara-negara Eropa untuk mendefinisikan kepentingannya sejalan dengan tujuan dan kebijakan AS. Masalah ini secara prinsip merampas independensi negara-negara Eropa dan saat ini Eropa hanya menjadi penonton dalam menyikapi berbagai transformasi di dunia. Kebijakan seperti itu mengundang protes masyarakat Barat dan juga mendorong penyebaran krisis ke sejumlah daerah.

Negara-negara independen Eropa dalam slogan-slogannya berbicara tentang penyelesaian masalah di Suriah, Bahrain, Yaman, dan Palestina serta perang melawan terorisme, tapi dalam prakteknya mereka tidak menjadi penawar atas luka serius yang diderita oleh masyarakat di Asia Barat.

Kebijakan standar ganda dalam masalah perang melawan terorisme, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip demokrasi telah menyeret bangsa-bangsa regional dalam krisis. Dalam hal ini, peran negara-negara independen Eropa tidak kurang dari AS.

Barat terutama AS sudah sering berbicara tentang upaya penyelesaian krisis Suriah, namun dalam prakteknya mereka justru memperburuk krisis dan membentuk kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh untuk mengacaukan Suriah. Ancaman keamanan dan serangan teror menyebar ke Eropa setelah Barat membagi terorisme ke dalam versi baik dan jahat serta membentuk kelompok-kelompok bersenjata yang terkesan moderat.

Sebelum ini AS bersama Inggris menginvasi Irak dengan alasan memusnahkan senjata kimia, di mana dampak dari pendudukan itu adalah kemunculan Daesh dan pada akhirnya kelompok tersebut melakukan aktivitas terang-terangan di Suriah dan Irak.

Sekarang kebijakan AS dalam memerangi Daesh di bawah koalisi internasional juga tidak akan membantu menghancurkan kelompok itu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa AS tidak berniat menghancurkan Daesh.

Kebijakan Eropa terhadap krisis Yaman dan Bahrain juga sejalan dengan AS. Mereka bersembunyi di balik slogan-slogan yang indah, tapi justru meningkatkan penjualan senjata ke Arab Saudi untuk membantai rakyat Yaman dan mereka juga mendukung tindakan represif rezim Al Khalifa terhadap rakyat Bahrain. Kebijakan Eropa telah menambah penderitaan dan kepedihan masyarakat di Yaman dan Bahrain.

Posting Komentar

0 Komentar