HEADER Iklan tEST

Negara Arab Belanja Senjata dari Amerika

Kuwait mengkonfirmasi penandatanganan kontrak militer dengan Amerika Serikat. Pemerintah Kuwait mengumumkan telah menandatangani kontrak baru dengan Amerika terkait pembelian jet tempur canggih senilai 10 miliar dolar.

Menurut Kuwait, kontrak ini dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan militernya.

Menurut sumber ini, petinggi Kuwait akan menambah jumlah jet tempur F-18 yang dibutuhkan negara ini sekitar 40 unit. Pembelian ini tercatat sebagai kontrak militer terbesar di sejarah Kuwait.

Pemerintah Kuwait sebelumnya tidak memiliki kecenderungan memperkuat militernya dengan membeli senjata dan peralatan militer lainnya, namun selama satu tahun lalu dan seiring dengan menurunnya harga minyak di pasar global, negara ini mulai memikirkan untuk membeli peralatan militer.

Khaled al-Jarallah, deputi menteri luar negeri Kuwait mengumumkan bahwa negara ini sejak perang Teluk Persia di tahun 1991 dengan Irak hingga kini telah membeli senjata dari Amerika Serikat senilai 25 miliar dolar.

Selama beberapa tahun terakhir negara-negara Arab kawasan Teluk Persia khususnya Arab Saudi berubah menjadi konsumen terbesar peralatan militer dari Amerika Serikat. Pemerintah Washington selama beberapa tahun terakhir menjual senjata senilai lebih dari 33 miliar dolar kepada sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC). 

Seluruh negara anggota dewan ini merupakan sekutu Amerika dan setiap dari mereka memiliki posisi khusus di mata Washington.

Faktor utama kesediaan anggota P-GCC menajdi pangkalan militer AS disebut-sebut untuk menjaga keamanan negara-negara ini, namun ada sisi lain dari sekedar isu keamanan bahwa Amerika dalam menggalang kerja sama dengan negara anggota dewan ini meraih keuntungan yang besar.

Salah satu sumber dan pendapatan Amerika adalah penjualan senjata kepada berbagai negara khususnya negara-negara Arab kawasan Teluk Persia. Amerika di tahun 2014 tercatat sebagai eksportir terbesar senjata di dunia dengan penghasilan 24 miliar dolar.

 Angka ini mencakup dua pertiga dari total penjualan senjata di dunia. Dari 24 miliar tersebut, 9 miliar di tahun 2014 adalah hasil penjualan sejata ke kawasan Asia Barat (Timur Tengah) khususnya negara-negara anggota P-GCC.

Perilisan laporan terkait pembelian senjata oleh negara Arab kawasan Teluk Persia senilai miliaran dolar merebak ketika instansi dan lembaga finansial seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di berbagai laporan terbarunya menyatakan bahwa negara kaya minyak Teluk Persia tengah dililit krisis finansial dan mengalami defisit anggaran miliaran dolar akibat anjloknya harga minyak.

Menurut laporan ini, defisit anggaran negara anggota P-GCC mencakup Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Oman, Kuwait dan Bahrain hingga akhir tahun 2016 akan mencapai angka fantastis sekitar 153 miliar dolar. Berlanjutnya proses ini akan mendorong negara-negara tersebut menghadapi kendala serius di berbaga sektor khususnya sosial.

Maraknya pembelian senjata oleh negara Arab Teluk Persia terjadi di saat sebagian senjata tersebut diserahkan kepada kelompok teroris di berbagai negara kawasan termasuk Suriah dan Irak. Sejatinya pembelian senjata oleh negara Arab Teluk Persia terus berlanjut di saat negara ini mengalami peningkatan angka kemiskinan dan pengangguran. Berlanjutnya kondisi ini di dua tahun lalu telah memicu protes publik termasuk di Arab Saudi.

Di kondisi seperti ini, sejumlah pengamat politik meyakini pembelian senjata oleh negara Arab di kawasan merupakan solusi untuk menyelamatkan krisis ekonomi Barat khususnya Amerika Serikat dan mencegah kebangkrutan perusahaan produsen senjata.

Poin ini juga tak boleh dilupakan bahwa negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat melalui pengobaran kerusuhan di kawasan Teluk Persia berusaha mengambil kembali dolar mereka yang digunakan untuk membeli minyak dari negara Arab melalui penjualan senjata.

Posting Komentar

0 Komentar