HEADER Iklan tEST

BUPATI KARAWANG MURKA “KEPSEK BERMASALAH MENOLAK DIMUTASI”

Bupati Karawang dr Cellica Nurrachadiana Didepan Orang Tua Siswa SDN Karawang Kulon II
KARAWANG, Radar Bharindo - Sikap Bupati Karawang dr Cellica Nurrachadiana yang dikenal ramah, tiba-tiba berubah ketika berkunjung ke SDN Karawang Kulon II Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Kamis (26/1). Penyebabnya, kepala sekolah SDN Karawang Kulon II, Yati, menolak untuk dimutasi ke tempat baru yaitu SDN Nagasari VI.
Kepala Sekolah Dasar Negeri Karawang Kulon II, Yeti Herawati, secara terang-terangan melawan kebijakan Bupati Cellica Nurrachadiana. Dia menolak dimutasi ke SD lain dengan cara menggalang tanda tangan penolakan dari orang tua murid untuk disampaikan ke Cellica.
Hanya saja, aksi kepala sekolah itu tercium oleh salah seorang anggota komite sekolah, Ahmad Suroto. Dia menghubungi Cellica agar datang ke acara penggalangan tanda tangan yang dilaksanakan di halaman SD Karawangkulon II.
Begitu tiba di acara itu, Cellica langsung berang. Dia bahkan sempat membentak seorang guru yang diduga menyebarkan undangan kepada para wali murid untuk datang ke acara tersebut.
"Siapa yang tidak setuju Hajah Yeti saya pindahkan, silahkan angkat tangan," ujar Cellica di hadapan para wali murid.
Namun, tantangan Cellica tersebut tidak ditanggapi oleh orang tua siswa, tak satu pun yang mengangkat tangan. Cellica kemudian berteriak lagi,
"Siapa yang setuju dia dipindahkan dari sini, silahkan angkat tangan," katanya.
Sontak orang tua siswa mengangkat tangannya sambil berteriak riuh. Cellica kemudian berujar, pemindahan Yeti dari Kepala Sekolah SDN Karawang Kulon II menjadi Kepsek di SD Nagasari VI, berdasarkan pertimbangan yang matang.
Yeti dilaporkan orang tua siswa dengan tuduhan sering melakukan pungutan liar. Terakhir, Yeti disebut-sebut mengutip dana pembangunan Mushola dari orang tua siswa masing-masing Rp 200 ribu.
Mernurut Cellica, laporan tentang prilaku Yeti sudah diterimanya sejak lama. "Laporannya bukan sebulan atau dua bulan lalu. Sejak saya masih Plt, sudah ada laporan seperti ini. Saya cek dan saya rekam, bila perlu rekamannya saya buka di sini," kata Cellica.
Pernyataan Cellica itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari ratusan orang tua siswa. Mereka sepertinya setuju atas sikap Cellica tersebut.
Dalam kesempatan itu, Cellica juga memberikan peringatan keras kepada oknum guru di SDN Karawang Kulon II yang berani mengancam akan memberikan nilai kecil kepada siswa yang orang tuanya tidak memberikan tanda tangan penolakan.
Menurut Cellica, pegawai negeri sipil (PNS) harus siap ditugaskan di manapun. "Kewenangan mutlak mutasi dan rotasi ada ditangan bupati," ujarnya.
Cellica menambahkan, jika ada anak buahnya yang terbukti buruk dalam bertugas, dia akan memberikan sanksi seperti yang terjadi di SDN Karawang Kulon II. "Bukan hanya kepala sekolah, Kepala UPTD atau Kepala Dinas tidak benar, saya pindahkan.
Semua aparat pemerintah yang tidak benar dalam pelayanan publik, sudah jadi kewajiban saya untuk memberikan sanksi terhadap aparat tersebut. Jadi jangan salahkan saya," tutur Cellica.
Sementara itu, seorang anggota Komite Sekolah Karawang Kulon II, Ahmad Suroto menyebutkan, para orang tua siswa awalnya tidak tahu bakal ada penggalangan tanda tangan untuk menolak pemutasian Yeti. Dalam undangan yang mereka terima adalah acara silaturahmi para wali murid.
Namun, setelah mereka berkumpul ada salah seorang guru yang membagikan surat penolakan mutasi yang harus ditandatangani orang tua murid. Melihat hal itu, sejumlah orang tua siswa langsung berteriak "Apa-apaan ini".
Sebagian lagi ada yang menandatangani surat itu karena takut nilai anaknya menjadi rendah. "Kebanyakan sih tidak mau tanda tangan," kata Suroto’
Disebutkan pula, sikap Yeti yang sering melakukan pungutan liar, sebenarnya tidak disukai oleh para orang tua siswa. Namun mereka tidak berani menyampaikan hal itu secara terbuka.
Sebagian wali murid ada yang melapor ke bupati. Apalagi setelah muncul pungutan dana sebesar Rp 200 ribu/siswa dengan dalih untuk pembangunan mushola. "Jumlah siswa SDN Karawang Kulon itu ada 1.400 siswa. Jika dikalikan Rp 200 ribu, sudah berapa uang yang terkumpul," kata Suroto.
Selain dihadiri orang tua siswa, dalam kesempatan tersebut juga hadir beberapa anggota Komisi D DPRD Karawang. Kehadiran ratusan orang tua siswa ini ternyata diundang oleh salah satu guru. Anehnya dalam surat undangan yang disebar kepada orang tua siswa itu tidak dicantumkan nama kepala sekolah dan komite. (Red)

Posting Komentar

0 Komentar