HEADER Iklan tEST

Komisi D Rekomendsasikan RS Bayukarta Kena Sanksi

RS Bayukarta Rumah Sakit Paling Buruk Dalam Pelayanan
Ketua LSM-KOMPAK Ahmad Mukron
Karawang, Radar Bharindo - Komisi D DPRD Karawang merekomendasikan ke Pemkab Karawang melalui Dinas Kesehatan (DInkes) Kabupaten Karawang agar RS Bayukarta Karawang dikenakan sanksi lantaran dituding menolak pasien BPJS beberapa waktu lalu.
Hal itu terungkap usai menggelar hearing antara Komisi D DPRD Karawang dengan jajaran LSM Kompak, BPJS kesehatan Karawang, Dinkes Karawang dan pihak manajemen RS Bayukarta di gedung DRPD Karawang, Senin (9/10).

Menurut Ketua Komisi D DPRD Karawang, Pendi Anwar, berdasarkan pemaparan data dari Kasi Pelayanan Dinkes Karawang, Andi Laode Ahmad, menerangkan bila RS Bayukarta merupakan rumah sakit paling buruk dalam pelayanan lantaran sering mendapat keluhan dari pasien BPJS, sedangkan RS Islam Karawang merupakan rumah sakit yang baik dalam pelayanan pasien BPJS.

Sementara itu Ketua LSM Kompak, Ahmad Mukron, akan membawa persoalan penolakan RS Bayukarta terhadap pasien BPJS ke meja hijau supaya izin operasionalnya dicabut kendati pihak Komisi D DPRD Karawang dan Dinkes Karawang sekalipun tidak tegas dalam menangani persoalan tersebut.

“Kami sudah menyiapkan pengacara untuk meminta izin RS Bayukarta dicabut. Ini perlu dilakukan agar pasien BPJS tidak mengalami kasus yang sama,” kata Mukron.

Menurut Mukron, izin RS Bayukarta layak dicabut lantaran pelayanannya sering mendapat keluhan dari pasien BPJS, apalagi hal itu diperkuat dengan adanya data dari Kasi Pelayanan Dinkes Karawang yang menempatkan RS Bayukarta sebagai rumah sakit paling buruk se-Kabupaten Karawang dalam pelayanan terhadap pasien BPJS.

“Pihak Dinkes Karawang saja sudah menyatakan demikian, apalagi ada kasus yang menimpa pasien Narmi,” tandas Mukron.

Di tempat yang sama, pihak manajemen RS Bayukarta, Bina Wiguna, tetap bersikukuh tidak melakukan penolakan terhadap pasien BPJS atas nama Narmi, lantaran pada saat itu kamar memang sedang penuh kendati oleh keluarga korban dikatakan ada kamar yang sedang kosong.

Bina menjelaskan, kamar dikatakan penuh di rumah sakit harus dipandang dari sudut lain, yakni kamar yang dikatakan kosong oleh keluarga pasien karena sedang dalam sterilisasi untuk menghilangkan virus yang dibawa atau disebabkan oleh pasien yang menempati kamar itu sebelumnya.


“Atau bisa juga lantaran kamar itu sudah ada pasien berjenis kelamin laki-laki yang tidak bisa dicampur dengan pasien berjenis kelamin perempuan, sehingga kamar itu dikatakan penuh,” pungkasnya. (Latif,BK)

Posting Komentar

0 Komentar