HEADER Iklan tEST

Apoteker Terkait Kasus Obat PCC di Kendari, Diamankan Polisi

Sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan Polda Sulawesi Tenggara. (Nett)
Radar Bharindo, Kendari ~ Terkait dengan tersebarnya obat PCC di Kendari, setelah sebelumnya berhasil menangkap seorang ibu rumah tangga, kini polisi kembali menangkap apoteker dan asistennya. Keberhasilan menangkap apoteker dan asistennya itu didasarkan pada pengembangan jajaran Resnarkoba Polda Sulawesi Tenggara atas laporan masyarakat yang menggunakan obat PCC, Somadril, dan Tramadol.


Dir Resnarkoba Polda Sulawesi Tenggara Satria Adhi Permana menyebut bahwa pihaknya sudah mengumpulkan informasi dari keluarga korban sejak Selasa hingga Rabu kemarin. Lantas, dari keterangan yang diperoleh, Polisi pun kemudian memeriksa salah satu apotik yang terletak di Jalan Saranani, Kendari. Di sana, Polisi mengamankan apoteker berinisial WYK beserta asistennya yang berinisial A alian L.


“Pengembagan kasus yang kami lakukan, kami berhasil menemukan barang bukti sebanyak 1.112 pil Tramadol di apotek tersebut dan diperjualbelikan tanpa adanya resep dokter,” kata Satria di Media Centre Polda Sulawesi Tenggara, Kendari, Kamis (14/9/2017).


Satria kemudian menjelaskan bahwa Somadril dan Tramadol merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan G atau obat terlarang. Kedua jenis obat tersebut bisa digunakan seseorang ketika pasca operasi guna mengurangi rasa sakit, namun, ketika obat tesebut digunakan dalam dosis yang berlebihan, maka obat itu bisa membahayakan pengguna.

Apoteker dan asistennya, lanjut Satria, mengaku lalai karena tidak dapat menunjukkan resep dokter saat memperjualbelikan Tramadol. Obat tersebut bahkan, imbuhnya, sudah di perjualbelikan selama tiga bulan terakhir ini.

Atas tindakannya itu, Satria mengungkapkan pihaknya bakal memberi sanksi Undang-Undang Kesehatan Pasal 197 No 36 Tahun 2009 dan Pasal 197 tentang penyedia, pengada, dan penjual obat tersebut.


Sangsi Hukum
Bunyi Pasal 196: Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standard dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).


Bunyi Pasal 197: Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Sebelum menangkap apoteker dan asistennya ini, polisi sudah menangkap ibu rumah tangga berinisial ST yang diduga menjual obat PCC. Sementara itu, polisi masih akan terus mengembangkan kasus dan memeriksa semua apotik yang ada di Kota Kendari. (Red)


Sumber : Suratkabar.id 

Posting Komentar

0 Komentar