HEADER Iklan tEST

Prihatin !!! Bila Pemberitaan Proyek “Taman Goib” Disdikpora, Akhirnya Jadi Bahan Bancakan Oknum ?

Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karawang, yang beralamat di Jalan Surotokunto No.72 Karawang
Berdasarkan keterangan dari yang bersangkutan (PPTK, red), jika proyek taman yang sempat ramai diberitakan di media masa ini diakui Ocid Rosidin “Sudah Diamankan”. Artinya,  beberapa oknum wartawan disebut-sebut sudah diamankan agar tidak lagi memberitakan persoalan proyeknya.

Radar Bharindo, Karawang ~ Tersiar kabar jika proyek “taman goib” senilai Rp 400 juta di halaman kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karawang menjadi bahan bancakan oknum yang mencoba memanfaatkan kesalahan atas “pengadaan” proyek penunjukan langsung (Juksung) tersebut.

Berdasarkan informasi ini, Ketua Organisasi Kaderisasi dan Kepemudaan (OKK) DPC AMIB Karawang, Iwan Sugriwa akhirnya mengaku terpaksa melakukan investigasi dengan cara melakukan konfirmasi secara langsung kepada Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Disdikpora Karawang, Ocid Rosidin.

Berdasarkan hasil konfirmasinya, Iwan mendapatkan informasi dari yang bersangkutan (PPTK, red), jika proyek taman yang sempat ramai diberitakan di media masa ini diakui Ocid Rosidin “sudah diamankan”. Artinya, sambung Iwan, beberapa oknum wartawan disebut-sebut sudah diamankan agar tidak lagi memberitakan persoalan proyeknya.

“Saya datangi Pak Ocid langsung, katanya sudah diamankan Kang (kepada Radar Bharindo, red). Katanya sih seperti itu, tapi gak tahu benar atau tidaknya. Karena itu pengakuan Pak Ocid saat saya konfirmasi,” kata Iwan Sugriwa, kepada Radar Bharindo, Senin (9/10).

Dikatakan Iwan, semenjak ramainya pemberitaan melalui media masa soal taman goib ini, AMIB Karawang memang langsung melakukan investigasi untuk mencari tahu kebenaran informasinya. Yaitu dengan harapan, ketika terdapat kesalahan, pihak dinas maupun pemborong segera memperbaikinya.

“Sebagai lembaga kontrol sosial, persoalan-persoalan proyek bermasalah seperti ini memang menjadi salah satu fokus pengawasan lembaga kami. Karena ini menggunakan uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan harapan kinerja kontrol seperti ini dapat memperbaiki kinerja dinas maupun pemborong yang mengerjakan proyeknya,” timpal Iwan.

Ditambahkan Iwan, beberapa pengerjaan proyek di Karawang saat ini memang sedang bermasalah. Yaitu dari mulai tidak adanya papan proyek pengerjaan sebagai bahan informasi untuk masyarakat, pengurangan spek material proyek, sampai dengan dugaan permainan pada saat masa lelang.


“Persoalan lainnya juga banyak proyek yang sebenarnya LPSE tetapi malah dibuat Juksung. Persoalan seperti inilah yang terus kami awasi. Karena nanti efeknya berimbas kepada hasil pengerjaan proyek yang tidak maksimal. Dari mulai tidak sesuai spek sampai dengan cepat rusak. Ini jelas merujuk kepada indikasi kerugian negara. Sehingga setiap tahun setiap dinas selalu saja menganggarkan proyek dengan nonmeklatur yang sama,” tandas Iwan.

Sebelumnya diberitakan, pemerhati pendidikan yang masih merupakan Ketua Pena Anggaran Karawang, Nurdin Pelez sempat merilis, jika anggaran penataan taman di lingkungan Disdikpora Karawang terindikasi ada unsur manipulasi.

Pasalnya, sampai saat ini tidak terlihat adanya bukti fisik pembangunan taman senilai Rp 413.380.000,- rupiah di lingkungan Disdikpora Karawang tersebut. Sehingga Nurdin menyindir, jika pembangunan taman tersebut seperti pembangunan “proyek taman goib”.

Menyikapi persoalan ini, PPTK Disdikpora, Ocid Rosidin menjelaskan, jika sebenarnya proyek pembangunan tersebut bukan untuk pembangunan taman. Melainkan proyek senilai Rp 400 juta lebih yang dibagi menjadi tiga paket pekerjaan. Pertama, proyek Auning Rp 99.770.00,- rupiah yang dikerjakan mulai 2 Maret 2017 oleh CV. Mustika Rahayu.

Kedua, proyek pagar dan drainase Rp 99.800.000,- rupiah yang dikerjakan mulai 11 April 2017 oleh CV. Fajar Mandiri. Ketiga, proyek pagar Rp 199.100.000,- rupiah yang dikerjakan mulai 11 April 2017 oleh CV. Hutami & CO.

“Meskipun nilai proyeknya dalam kesatuan nomenklatur Rp 400 juta lebih, tapi proyek tersebut merupakan Penunjukan Langsung (Juksung) yang dibagi menjadi tiga pekerjaan,”kata Ocid Rosidin. (Adk,RBI 248)

Posting Komentar

0 Komentar